Laporan tersebut menyebut pertumbuhan ekonomi pada 2026 masih akan ditopang oleh konsumsi domestik dan belanja pemerintah. Namun, ketidakpastian ekonomi global, volatilitas pasar keuangan, pelemahan nilai tukar, serta tingginya harga energi menjadi tantangan utama yang dapat menekan laju pertumbuhan. Bank Dunia juga menyoroti meningkatnya beban subsidi energi dan ruang fiskal pemerintah yang semakin terbatas.
Meski hanya diproyeksikan tumbuh 5% pada 2026, Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia dapat meningkat menjadi 5,2% pada 2027-2028 apabila reformasi struktural, investasi, dan produktivitas terus diperkuat. Proyeksi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki peluang menjaga momentum pertumbuhan, meskipun harus menghadapi berbagai risiko dari kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil.
