Tertekan Keperkasaan Dolar AS, Rupiah Ditutup Melemah Terbatas di Level Rp17.845

 

Rupiah - Dolar (Finansial - Bisnis.com)
Jakarta, Honewire.id - Pasar keuangan domestik kembali menghadapi tekanan eksternal pada sesi perdagangan Selasa (23/6/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melandai dengan pelemahan tipis sebesar 0,07% atau terdepresiasi ke posisi Rp17.845 per dolar AS.

​Meskipun laju pelemahan cenderung terbatas, fluktuasi ini mencerminkan kuatnya posisi mata uang Greenback di pasar global yang sukses memukul mundur mayoritas instrumen mata uang di kawasan Asia.

​Dolar AS Perkasa, Mata Uang Asia Bertumbangan

​Koreksi yang dialami rupiah tidak terlepas dari posisi indeks dolar AS yang terus bertengger di level tinggi, yakni mencapai 101,14. Keperkasaan mata uang utama dunia ini seketika memicu aksi jual pada aset-aset berisiko di pasar berkembang (emerging markets).

​Tekanan hebat ini dirasakan secara merata di sepanjang koridor pasar Asia. Berdasarkan data perdagangan:
  • ​Baht Thailand mencatatkan diri sebagai mata uang dengan koreksi paling tajam di kawasan.
  • ​Pelemahan kemudian diikuti oleh peso Filipina, yuan offshore (China), serta rupee India.
  • ​Dolar Singapura dan rupiah ikut terseret ke zona merah, disusul oleh won Korea Selatan yang juga menutup hari dengan kinerja lesu
​Pengaruh Suku Bunga Global dan Faktor Sentimen

​Pada pembukaan perdagangan pagi hari, mata uang Garuda sebenarnya sempat terkoreksi lebih dalam hingga ke level Rp17.860 per dolar AS akibat sikap restriktif (hawkish) yang dipertahankan oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Namun, intervensi pasar dan pelonggaran harga minyak mentah global yang perlahan turun ke bawah kisaran 80 dollar AS per barel membantu meredam depresiasi rupiah lebih lanjut menjelang penutupan pasar sore.

​Di sisi lain, respons pasar juga dipengaruhi oleh lelang Surat Utang Negara (SUN) dengan target indikatif Rp36 triliun yang digelar oleh pemerintah pada hari yang sama. Tingkat yield (imbal hasil) obligasi yang bergerak atraktif setelah kenaikan suku bunga acuan domestik bertahap menjadi modal krusial demi menjaga ketertarikan investor asing agar tidak terjadi aliran modal keluar (outflow) secara masif.

​Meskipun pergerakan rupiah saat ini masih dibayangi oleh volatilitas geopolitik, para analis menilai ketahanan eksternal ekonomi nasional masih berada dalam kondisi yang cukup tangguh untuk menopang stabilitas nilai tukar dalam jangka menengah.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama