Konsensus Bloomberg Proyeksikan BI Rate Naik Jadi 6% untuk Amankan Rupiah

 

Bank Indonesia (Finansial Bisnis)

Jakarta, Honewire.id - Bank Indonesia (BI) diproyeksikan bakal kembali menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin (bps) dari 5,75% menjadi 6,00% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Juli. Langkah pengetatan moneter ini dinilai mendesak guna meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan membendung risiko imported inflation akibat gejolak geopolitik global.

​Berdasarkan survei Bloomberg terhadap 34 ekonom dan analis, median proyeksi menunjukkan kenaikan ke level 6,00%. Dari rentang perhitungan utama yang melibatkan 29 ekonom, angka berada di kisaran 5,75% hingga 6,00%, mencerminkan tingkat keyakinan pasar yang cukup tinggi terhadap arah kebijakan BI. Meskipun demikian, pandangan institusi keuangan masih terbelah. Pihak yang memprediksi suku bunga bertahan di 5,75% antara lain CIMB, Bank of America, Bank Permata, Barclays, Citigroup, dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI).

​Di sisi lain, analis seperti Tamara Henderson (Bloomberg Economics), Radhika Rao (DBS), Jeemin Bang (Moody’s Analytics), Hosianna Evalita (Bank Danamon), serta Lionel Priyadi (Mega Capital Sekuritas) meyakini kenaikan suku bunga sangat diperlukan. Tamara Henderson menyoroti bahwa kendati BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 bps sejak Mei, nilai tukar rupiah masih di bawah tekanan berat dan mendekati kisaran Rp18.000/US$.

​Tekanan pasar ini dipicu oleh eskalasi konflik AS-Iran dan ancaman blokade Laut Merah oleh kelompok Houthi, yang mendorong harga minyak mentah Brent naik hingga US$88,9 per barel. Kondisi ini memicu aksi jual pada obligasi global, menyebabkan yield US Treasury tenor 10 tahun naik ke 4,59% dan yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun terangkat menjadi 7,28%.

​Lionel Priyadi menegaskan bahwa kombinasi ketegangan eksternal dan lonjakan harga energi berpotensi memperlebar defisit neraca pembayaran serta memicu inflasi di tingkat konsumen. Kebijakan kenaikan BI Rate ke 6,00% diharapkan mampu meminimalisasi volatilitas pasar dan menjaga rupiah tetap stabil di kisaran Rp17.900–Rp18.100/US$.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama