Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyampaikan pandangan tersebut saat berbicara dalam sebuah forum kebijakan luar negeri di Moskow. Menurutnya, arsitektur keamanan internasional yang selama ini menjaga stabilitas geopolitik global sedang mengalami pengikisan yang sangat mengkhawatirkan.
"Sebenarnya, kita tidak memiliki apa pun lagi di dunia ini selain pencegahan nuklir (nuclear deterrence). Itu satu-satunya hal yang melindungi dunia dari perang global," ujar Peskov.
Lebih lanjut, Peskov juga memperingatkan dampak pesatnya kemajuan teknologi militer modern. Ia memproyeksikan bahwa di masa depan akan lahir jenis-jenis senjata konvensional (non-nuklir) baru yang kekuatan destruktif atau daya hancurnya mampu menyamai bom atom atau hulu ledak nuklir tradisional.
Pasca-Berakhirnya Perjanjian New START
Krisis dalam sistem kendali senjata ini mencapai puncaknya setelah perjanjian New START (Strategic Arms Reduction Treaty) resmi berakhir pada Februari 2026 lalu. Perjanjian yang ditandatangani pada tahun 2010 tersebut merupakan traktat pembatasan senjata nuklir terakhir yang tersisa antara Rusia dan Amerika Serikat sejak era Perang Dingin.
Selama masa berlakunya, New START membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang boleh dikerahkan oleh masing-masing negara maksimal sebanyak 1.550 unit. Sebelum perjanjian ini kedaluwarsa, Moskow dan Washington sebenarnya sudah berulang kali saling melempar tuduhan mengenai pelanggaran komitmen kepatuhan.
Dengan berakhirnya kesepakatan tersebut tanpa adanya pengganti, dunia kini memasuki era baru dalam beberapa dekade terakhir di mana tidak ada lagi aturan hukum internasional yang mengikat dua kekuatan nuklir terbesar dunia dalam membatasi persenjataan mereka. Meskipun kedua belah pihak dilaporkan sepakat untuk membuka kembali dialog militer tingkat tinggi, hingga kini belum ada indikasi konkret bahwa pakta pertahanan tersebut akan diperbarui.
Tarik-Ulur Keterlibatan Kekuatan Nuklir Lain
Isu pembaruan perjanjian kendali nuklir ini juga menghadapi jalan buntu akibat perbedaan pandangan mengenai negara mana saja yang harus dilibatkan:
- Desakan Amerika Serikat (Donald Trump): Presiden AS Donald Trump mendesak agar pakta baru di masa depan wajib menyertakan China. Alasan Washington adalah karena Beijing saat ini sedang gencar memperluas dan memodernisasi persenjataan nuklirnya, meskipun jumlahnya saat ini masih di bawah koleksi AS dan Rusia.
- Penolakan China: Pemerintah China (Beijing) secara tegas menolak tekanan AS tersebut dan memilih untuk tidak terlibat dalam kesepakatan trilateral.
- Syarat dari Rusia: Menanggapi dinamika tersebut, Rusia menyatakan bersedia melibatkan China dengan syarat sekutu nuklir utama Amerika Serikat di Eropa, yaitu Inggris dan Prancis, juga harus dimasukkan ke dalam meja perundingan yang sama.
Retorika nuklir Rusia sendiri terus menjadi sorotan dunia barat, terutama sejak ketegangan militer di Ukraina yang telah berlangsung selama empat tahun terakhir. Sementara negara-negara Barat dan AS kerap menuding Moskow melakukan gertakan politik yang berbahaya, Kremlin berkilah bahwa postur nuklir mereka murni bersifat defensif guna memastikan stabilitas dan mencegah agresi langsung dari kekuatan asing.