Sebagai bagian dari kesepakatan, Washington memberikan izin untuk pembukaan kembali Selat Hormuz serta mengakhiri blokade laut yang sebelumnya diberlakukan. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute energi terpenting di dunia dan menjadi perhatian utama pasar global selama konflik berlangsung.
Sementara itu, Perdana Menteri Shehbaz Sharif yang berperan dalam proses mediasi mengungkapkan bahwa kedua pihak telah menyetujui penghentian operasi militer secara permanen, termasuk yang berkaitan dengan konflik di Lebanon. Ia juga menyebut dokumen perdamaian dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Swiss pada 19 Juni 2026.
Meski naskah final belum dipublikasikan, sejumlah poin utama disebut mencakup penghentian aksi militer, pembukaan akses pelayaran di Selat Hormuz, komitmen untuk tidak saling menyerang, serta dimulainya negosiasi lanjutan terkait program nuklir Iran. Sebagai bagian dari proses tersebut, Iran berpotensi memperoleh pelonggaran sejumlah sanksi ekonomi yang selama ini membatasi ekspor minyaknya.
Kesepakatan ini dipandang sebagai langkah besar menuju stabilitas kawasan Timur Tengah. Namun, para pengamat menilai tantangan masih ada karena hubungan kedua negara masih dibayangi ketidakpercayaan yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Keberhasilan implementasi perjanjian akan menjadi faktor penentu apakah perdamaian ini dapat bertahan dalam jangka panjang.
