Refleksi Kepemimpinan Perry Warjiyo: Dinamika Rupiah dan Rekam Jejak 8 Tahun di Bank Indonesia



Jakarta, Honewire.id  - Pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) pada akhir Juli 2026 menutup babak kepemimpinannya selama lebih dari delapan tahun di bank sentral. Keputusan mendadak tersebut memicu reaksi reaktif di pasar keuangan, yang ditandai oleh pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN), serta peningkatan premi risiko Indonesia.

​Secara statistik, saat Perry resmi dilantik pada 24 Mei 2018, rupiah berada di level Rp14.330/US$. Hingga akhir masa jabatannya pada Juli 2026, rupiah terdepresiasi ke kisaran Rp17.943 hingga Rp18.005/US$, atau melemah sekitar 21,2% hingga 21,5%. Kendati demikian, angka depresiasi ini tidak serta-merta mencerminkan kegagalan kebijakan moneter, melainkan wujud dari pergeseran ekstrem lanskap ekonomi global.

​Selama memimpin BI, Perry menghadapi empat gelombang tekanan utama yang menguji stabilitas rupiah:

​Pengetatan Moneter The Fed (2018):

Dua pekan awal jabatan Perry diwarnai oleh aksi agresif The Fed yang menaikkan suku bunga empat kali. Arus modal keluar dari pasar negara berkembang mendorong rupiah merosot ke Rp15.238/US$. BI merespons cepat dengan menaikkan suku bunga acuan enam kali hingga 175 bps untuk meredam volatilitas.

​Krisis Pandemi COVID-19 (2020):

Pandemi melumpuhkan ekonomi global dan mendorong investor berbondong-bondong memburu dolar AS. Rupiah terperosok hingga Rp16.575/US$ pada Maret 2020, level terendah sejak krisis 2008. BI mengambil langkah inisiatif melalui strategi triple intervention, penguatan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta skema burden sharing dengan pemerintah untuk memulihkan pasar.

​Konflik Rusia-Ukraina & Inflasi Global (2022–2024):

Eskalasi perang memicu lonjakan harga pangan dan energi. The Fed menaikkan suku bunga secara drastis lebih dari 500 bps, memicu keperkasaan dolar AS di kawasan Asia dan menekan rupiah ke kisaran Rp15.500–Rp16.300/US$.

​Perang Tarif & Geopolitik (2024–2026):

Tingginya suku bunga global (higher for longer), ketegangan di Timur Tengah, serta perlambatan ekonomi China terus menekan rupiah hingga menembus psikologis Rp17.000 dan Rp18.000/US$.

​Perbandingan Kawasan Asia:

Jika dibandingkan mata uang kawasan pada periode Mei 2018–Juli 2026, depresiasi rupiah sebesar 21,5% bukanlah yang terburuk. Yen Jepang mencatat depresiasi paling dalam mencapai 33,3%, disusul Rupee India 28,7%, dan Won Korea Selatan 26,4%. Sementara Peso Filipina melemah 14,8% dan Ringgit Malaysia 2,6%.

​Secara keseluruhan, rekam jejak rupiah era Perry Warjiyo memperlihatkan betapa besarnya dominasi guncangan dolar AS terhadap ekonomi berkembang. Kebijakan bauran moneter BI dinilai berperan penting sebagai penjaga benteng stabilitas nasional di tengah ketidakpastian global.
 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama