Harga Minyak Dunia Melandai, Menkeu Purbaya Yakin Harga Pertamax Bakal Turun

 

Purbaya Yudhi Sadewa (MPN Indonesia)
Jakarta, Honewire.id - Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan keyakinannya bahwa harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi, seperti Pertamax (RON 92) dan sejenisnya, memiliki ruang terbuka lebar untuk mengalami penurunan dalam waktu dekat. Optimisme ini mencuat seiring dengan tren melandainya harga minyak mentah di pasar global yang dipicu oleh sentimen geopolitik yang mulai mendingin.  

​"Saya yakin dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun, sehingga fondasi pertumbuhan ekonomi kita akan makin kuat," ujar Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Komite IV Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di Jakarta.  

​1. Akar Masalah Kenaikan Sebelumnya

Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga terpaksa mengerek harga Pertamax dari yang semula Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter. Langkah penyesuaian ini diambil akibat meroketnya harga minyak mentah dunia, di mana jenis Brent sempat menyentuh angka US93,10 per barel dan WTI berada di kisaran US90,03 per barel.  

​Menkeu Purbaya mengakui bahwa lonjakan komoditas energi tersebut sempat memposisikan Indonesia dalam situasi ujian yang sangat berat. Demi menjaga stabilitas daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah, pemerintah memutuskan tetap mempertahankan dan menahan harga BBM bersubsidi (seperti Pertalite dan Solar) agar tidak ikut naik, meskipun konsekuensinya harga BBM non-subsidi yang menyasar kelas menengah ke atas terpaksa disesuaikan dengan nilai keekonomian pasarnya.  

​2. Faktor Pemicu Penurunan: Peluang Damai AS-Iran

Kondisi pasar energi global saat ini mulai berbalik arah ke zona koreksi. Penurunan harga minyak dunia ini sebagian besar dipengaruhi oleh terbukanya peluang kesepakatan damai serta meredanya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.  

​Dampak dari sentimen damai ini langsung terasa di jalur perdagangan laut, di mana pengiriman minyak dari pelabuhan Iran mengalami peningkatan. Melimpahnya pasokan di pasar, ditambah dengan kebijakan diskon harga minyak yang ditawarkan, membuat harga minyak mentah dunia mengalami kejatuhan nilai hingga berkisar 14% hingga 15% dalam kurun waktu kurang dari dua pekan.  

​3. Dampak Positif bagi Makroekonomi Indonesia

Penurunan harga minyak dunia dan potensi koreksi harga Pertamax dinilai akan membawa dampak domino positif yang signifikan bagi perekonomian domestik. Purbaya memaparkan beberapa indikator yang mulai menunjukkan arah perbaikan (rebound):  

  • ​Penguatan Rupiah & IHSG: Seiring merosotnya ketidakpastian global, nilai tukar Rupiah mulai menunjukkan tren penguatan dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak positif.  
  • ​Arus Modal Asing (Inflow): Kepercayaan pasar (market confidence) global terhadap Indonesia kembali meningkat, ditandai dengan kembalinya aliran modal asing masuk ke instrumen pasar keuangan dalam negeri.  
  • ​Biaya Dana Lebih Kompetitif: Melandainya harga minyak mengurangi beban tekanan fiskal negara, sehingga biaya dana (cost of fund) menjadi makin kompetitif dan iklim investasi diproyeksikan menguat pada paruh kedua tahun ini.  

​4. Melewati Masa Ujian Berat

Purbaya menegaskan bahwa meskipun situasi ekonomi beberapa waktu lalu tidak berada dalam kondisi ideal, Indonesia terbukti mampu bertahan berkat bauran kebijakan mitigasi dampak global yang tepat. Sebagai bukti ketahanan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I tetap tumbuh kokoh di angka 5,61 persen dengan tingkat inflasi yang terkendali di level rendah.  

​"Kalau dari data yang kita lihat sekarang, sepertinya kita sudah melewati masa ujian itu. Ke depan, tinggal memperbaiki fondasi yang sudah ada supaya kita bisa tumbuh lebih optimal pada semester II nanti," pungkas Purbaya optimistis.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama