Gertakan Baru Donald Trump: Ancam Tarik Bea Masuk di Selat Hormuz jika Iran Keras Kepala

 

Donald Trump (AFU.id)

Jakarta, Honewire.id - Eskalasi politik di Timur Tengah memasuki babak baru yang penuh ketegangan finansial. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melemparkan ancaman tak biasa ke arah Teheran. Ia menegaskan bahwa Washington tidak segan-segan memberlakukan tarif atau bea masuk di jalur perdagangan minyak paling vital di dunia, Selat Hormuz, jika perundingan damai komprehensif antara AS dan Iran berujung pada kegagalan.

Peringatan keras ini mencuat tepat ketika delegasi diplomatik dari kedua negara telah mendarat di Swiss untuk memulai putaran negosiasi baru pada Minggu, 21 Juni 2026. Pertemuan maraton yang dijadwalkan berlangsung selama dua bulan ke depan ini dirancang untuk merumuskan draf final perdamaian, pasca-kesepakatan awal penghentian perang yang sempat ditandatangani pada Jumat, 19 Juni 2026 lalu. Fokus utamanya kini adalah mengetatkan kembali pengawasan terhadap program nuklir Iran.

Strategi "Malaikat Pelindung" ala Trump

Bukan Donald Trump namanya jika tidak menggunakan instrumen ekonomi sebagai alat penekan geopolitik. Melalui media sosial Truth Social, Trump menggambarkan rencana penarikan bea masuk di jalur maritim strategis tersebut layaknya biaya kompensasi atas peran militer AS menjaga stabilitas kawasan selama ini.

"Tidak akan ada pungutan tol kecuali jika diberlakukan oleh dan untuk AS, jika kesepakatan tersebut tidak tercapai," tulis Trump tegas.

"Ini sebagai malaikat pelindung bagi negara-negara Timur Tengah untuk penggantian biaya di masa lalu, sekarang dan masa depan." sambungnya. 

Melalui gertakan tarif ini, Washington berupaya menekan Teheran agar lebih melunak di meja perundingan.

Saling Sindir dan Tarik Ulur Diplomasi

Suasana menjelang negosiasi sebenarnya sempat memanas. Trump dikabarkan sempat geram setelah mendapat ledekan dari tokoh berpengaruh Iran, Mojtaba Khamenei, yang menyebut AS mulai putus asa akibat tekanan perang dan ancaman krisis ekonomi global.

Meski sempat diwarnai saling sindir dan penundaan jadwal akibat ketegangan internal di Iran, Gedung Putih menunjukkan komitmennya untuk tidak membiarkan diplomasi ini runtuh. Demi mengawal ketat penyusunan klausul perdamaian pada pertemuan 21 Juni tersebut, Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan langsung bertolak dari Washington menggunakan penerbangan sore untuk menyusul tim negosiator utama di Swiss.

Bagi AS, target 60 hari ke depan adalah pertaruhan besar. Jika Iran menolak berkompromi terkait masa depan pengawasan fasilitas nuklirnya, opsi militer mungkin dihindari, namun perang tarif ekonomi di Selat Hormuz siap menanti di depan mata sebuah langkah ekstrem yang dipastikan akan mengocok ulang peta pasar energi dunia.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama