Menurut Purbaya, saat konflik memanas, pemerintah harus menyiapkan ruang fiskal lebih besar untuk mengantisipasi kenaikan subsidi dan kompensasi energi. Namun setelah tercapainya perdamaian, tekanan tersebut berkurang sehingga APBN memiliki fleksibilitas yang lebih luas untuk mendukung program pembangunan dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Ia menjelaskan bahwa penurunan risiko geopolitik juga membantu menenangkan pasar keuangan global, memperbaiki sentimen investor, serta mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut memberikan peluang bagi pemerintah untuk mengelola fiskal dengan lebih optimal sambil tetap menjaga defisit dan keberlanjutan utang negara.
Pemerintah tetap akan memantau perkembangan global secara ketat. Meski situasi membaik, kewaspadaan diperlukan agar APBN tetap berfungsi sebagai penyangga ekonomi apabila muncul gejolak baru di pasar internasional.
