Langkah ini mencerminkan dinamika baru dalam hubungan geopolitik kedua negara yang kerap kali mengalami ketegangan terkait strategi dan pelaksanaan operasi militer di Timur Tengah.
Membangun Jaringan Persenjataan Mandiri
Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu di hadapan para perwira cadangan yang tengah menjalani kursus pelatihan di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Ia menekankan bahwa meskipun Israel sangat menghargai sokongan yang diberikan oleh Washington selama ini, negara tersebut harus mulai bertransisi menuju kemandirian penuh dalam hal logistik dan produksi senjata.
"Saya sangat menghargai dukungan yang telah kami terima dari rekan-rekan Amerika kami, namun kita perlu melepaskan diri dari ketergantungan ini dan mulai membangun jaringan persenjataan independen kita sendiri," ujar Netanyahu, sebagaimana dikutip dari laporan Al Arabiya.
Pernyataan ini bukan pertama kalinya dilontarkan oleh pemimpin sayap kanan tersebut. Pada awal tahun ini, Netanyahu sempat mengutarakan harapannya kepada media The Economist untuk menyetop ketergantungan dalam kurun waktu satu dekade. Bahkan, ia juga sempat menyatakan di stasiun televisi AS, CBS, bahwa target akhir dari dukungan keuangan militer tersebut adalah mencapai angka "nol".
Rekor Bantuan AS dan Anggaran Pertahanan Israel
Selama berdekade-dekade, hubungan domestik antara AS dan Israel didukung oleh aliran dana fantasi. Menurut data dari Council on Foreign Relations, sejak didirikan pada tahun 1948, Israel telah menerima bantuan ekonomi dan militer dari AS senilai lebih dari $300 miliar (setelah disesuaikan dengan nilai inflasi). Jumlah tersebut tercatat sebagai akumulasi bantuan luar negeri terbesar yang pernah diberikan AS kepada satu negara sejak era pasca-Perang Dunia II.
Saat ini, skema bantuan tersebut diatur dalam nota kesepahaman (MoU) sepuluh tahunan yang ditandatangani pada 2016 dan berlaku dari 2019 hingga 2028. Melalui perjanjian ini, Israel mengantongi dana segar sebesar $3,8 miliar per tahun khusus untuk belanja persenjataan. Angka ini setara dengan menyubsidi sekitar 15 persen dari total keseluruhan anggaran pertahanan tahunan Israel.
Keretakan Hubungan Pasca-Konflik Gaza dan Lebanon
Kendati AS tetap memposisikan diri sebagai tameng diplomatik dan militer terkuat Israel, hubungan di balik layar tidak selalu berjalan mulus. Ketegangan mencuat terutama pasca-peristiwa serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, di mana Washington kerap mengkritik taktik perang Israel yang dinilai mengabaikan aspek kemanusiaan dan memicu eskalasi regional.
Kondisi ini diperparah dengan friksi politik antara Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump. Dalam beberapa waktu terakhir, Trump melayangkan kritik terbuka terhadap kebijakan Netanyahu yang terus melanjutkan konfrontasi bersenjata dengan kelompok Hizbullah di Lebanon. Menurut Washington, agresi militer yang berlarut-larut berpotensi merusak dan menyabotase upaya jalur diplomasi perdamaian yang tengah dirintis dengan Iran.
Selain itu, Trump secara publik juga sempat mengecam keras pihak Israel maupun Iran lantaran dinilai telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sempat meredakan konflik multi-hari pada periode sebelumnya.
Bagi Netanyahu, dinamika politik global yang fluktuatif ini menjadi alarm keras bahwa bersandar sepenuhnya pada pasokan serta restu politik dari Gedung Putih memiliki risiko strategis yang besar bagi masa depan pertahanan Tel Aviv.