Dinamika Selat Hormuz: Iran Dorong Skema Kendali Navigasi Bersama Oman di Tengah Ketegangan Global

 

Kapal Iran (KONTAN)

Jakarta, Honewire.id - Di tengah eskalasi geopolitik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah, Pemerintah Republik Islam Iran dilaporkan tengah merancang skema pengaturan ulang lalu lintas pelayaran komersial di Selat Hormuz melalui pembicaraan intensif dengan Kesultanan Oman. Selat ini merupakan jalur maritim paling krusial bagi ketahanan energi dunia, di mana sekitar seperlima dari total pasokan minyak bumi global melintas setiap harinya.

​Berdasarkan keterangan seorang sumber senior Iran yang terlibat langsung dalam proses negosiasi, Teheran berupaya memperoleh wewenang penuh dalam mengendalikan dan memeriksa kapal-kapal kargo yang masuk melalui Selat Hormuz. Selain itu, Iran menginginkan visibilitas serta pemantauan menyeluruh terhadap pergerakan kapal yang keluar dari kawasan strategis tersebut.

​Dalam skema kompromi yang sedang dibahas, jalur navigasi keluar akan memanfaatkan rute perairan yang membentang di antara Iran dan Oman. Mekanisme perizinan keluar kapal rencananya ditangani oleh otoritas Oman, namun tetap mewajibkan adanya notifikasi resmi dan koordinasi terlebih dahulu kepada pihak Teheran. Sumber tersebut mengisyaratkan bahwa posisi diplomasi Iran dalam negosiasi ini cenderung memegang teguh batas-batas kontrol maritim tersebut.

​Sebelumnya, pada akhir Juli 2026, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengonfirmasi bahwa Teheran telah menolak proposal awal dari Oman yang menawarkan pembagian rute transit secara merata (50:50) antara kedua negara. Gharibabadi menegaskan bahwa rencana pembagian sama rata belum menjawab kekhawatiran mendasar terkait keamanan nasional Iran, setidaknya hingga stabilitas regional jangka panjang benar-benar terwujud.

​Pengawasan ketat terhadap Selat Hormuz menjadi salah satu titik sentral dalam ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Jalur pelayaran sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia ini mengalami gangguan serius dan pemblokiran parsial sejak pecahnya konflik terbuka pada akhir Februari 2026. Gangguan pada jalur ini secara langsung memicu gejolak harga minyak dunia dan mengancam rantai pasok energi global.

​Di saat yang sama, ketidakpastian mewarnai status negosiasi diplomatik antara Washington dan Teheran. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa pembicaraan damai sedang berlangsung atas prakarsa sejumlah negara kawasan, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Trump bahkan memperingatkan bahwa proses ini merupakan "kesempatan terakhir" bagi Iran untuk menyepakati perjanjian.

​Namun, pihak Iran secara tegas membantah klaim Washington tersebut dan menyatakan tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung maupun dijadwalkan. Sinyal yang saling bertolak belakang ini makin mempertegas ketegangan psikologis dan ketidakpastian pasar internasional atas keamanan rute pelayaran vital tersebut.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama