Pendapatan 2025 Anjlok 88,6 Persen, BTEK Bidik Pemulihan Lewat Pasar Kakao Premium di 2026

 

PT. Bumi Tkenokultura Unggul Tbk

Jakarta, Honewire.id - PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK), emiten yang bergerak di industri pengolahan kakao, tengah bersiap menyusun strategi pemulihan bisnis yang agresif pada tahun 2026. Langkah strategis ini diambil setelah perseroan mencatatkan penurunan performa keuangan yang cukup signifikan sepanjang tahun buku 2025.

​Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025, emiten yang mengoperasikan lini bisnis kakaonya melalui anak usaha PT Golden Harvest Cocoa Indonesia (GHCI) ini membukukan pendapatan sebesar Rp72,02 miliar. Angka tersebut merosot tajam sebesar 88,6% dibandingkan perolehan tahun 2024 yang mencapai Rp635,63 miliar.

​Direktur Utama BTEK, Dhanny Cahyadi, menjelaskan bahwa koreksi tajam pada pos pendapatan ini dipicu oleh melemahnya aktivitas operasional serta adanya langkah penyesuaian strategi bisnis internal perusahaan. Faktor-faktor tersebut pada akhirnya menekan volume penjualan perseroan secara keseluruhan sepanjang tahun lalu.

​"Manajemen terus mengevaluasi strategi operasional dan komersial untuk mendukung perbaikan pendapatan pada periode mendatang," ujar Dhanny dalam keterangan resminya.

​Penurunan Aset dan Liabilitas

​Kelesuan performa bisnis ini turut berdampak pada postur neraca (balance sheet) perseroan. Total aset BTEK per akhir Desember 2025 terpantau menyusut menjadi Rp3,51 triliun, dari posisi tahun sebelumnya yang sebesar Rp3,89 triliun.

​Penyusutan paling tajam terjadi pada pos aset lancar yang turun menjadi Rp48,12 miliar dari Rp163,88 miilar, yang sebagian besar dipengaruhi oleh penyesuaian nilai goodwill serta aset tidak lancar lainnya. Kendati demikian, aset tetap perseroan justru mengalami kenaikan dari Rp1,92 triliun menjadi Rp1,97 triliun berkat adanya realisasi belanja modal (capital expenditure/capex).

​Dari sisi kewajiban, total liabilitas BTEK berhasil ditekan tipis menjadi Rp3,23 triliun dari Rp3,43 triliun. Penurunan ini didorong oleh berkurangnya liabilitas jangka pendek menjadi Rp7,75 miliar (dari Rp69,97 miliar) seiring dengan penyelesaian utang usaha, uang muka pelanggan, dan beban akrual. Sementara itu, liabilitas jangka panjang ikut turun menjadi Rp3,22 triliun berkat pembayaran pinjaman yang terjadwal, penyelesaian saldo pihak berelasi, serta penurunan liabilitas pajak tangguhan.

Mau Belajar Saham? Disini aja



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama