Menurut laporan BI, kenaikan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan ULN sektor publik (pemerintah dan bank sentral), di tengah kontraksi ULN swasta. Posisi ULN pemerintah pada Mei mencapai US$ 217,3 miliar atau tumbuh 3,7% (yoy). Kenaikan ini didorong oleh aliran modal asing yang masuk ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) internasional, mencerminkan besarnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Utang pemerintah ini dialokasikan untuk sektor produktif, seperti Jasa Kesehatan (22%), Administrasi Pemerintah (20,6%), Pendidikan (16,2%), Konstruksi (11,5%), serta Transportasi (8,5%). Sementara itu, peningkatan ULN bank sentral didorong instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Di sisi lain, ULN swasta mengalami kontraksi sebesar 0,1% (yoy) menjadi US$ 195,9 miliar, terutama didorong oleh kelompok lembaga keuangan yang menyusut 0,8% (yoy). Pangsa pasar ULN swasta terbesar berada di sektor industri pengolahan, jasa keuangan, pengadaan listrik/gas, serta pertambangan (total 79,9%), dengan dominasi utang jangka panjang (74,9%).
Meskipun nominalnya meningkat, BI menegaskan struktur ULN Indonesia tetap sehat. Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di level aman sebesar 29,9%, didominasi utang jangka panjang (83,9%). BI dan pemerintah terus bersinergi memantau perkembangan demi menjaga stabilitas ekonomi.
Tags:
Ekonomi
