Berdasarkan data dari konsultan keamanan maritim, armada yang menjadi sasaran adalah Ever Lovely, sebuah kapal kontainer ukuran menengah yang beroperasi di bawah bendera Singapura. Serangan tersebut dilaporkan mengenai bagian lambung samping dan mengakibatkan kerusakan pada area anjungan ketika kapal sedang berlayar di perairan tenggara Oman. Kendati mengalami kerusakan, data pelacakan satelit menunjukkan kapal tersebut masih mampu melanjutkan perjalanannya secara mandiri dan berhasil melewati selat sempit tersebut pada Jumat dini hari.
Respons Otoritas dan Dampak Pasar
Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO), selaku penghubung keamanan antara militer dan pelayaran sipil, membenarkan adanya insiden penyerangan ini. Meski tidak menyebutkan nama kapal secara eksplisit, UKMTO langsung mengeluarkan peringatan kepada seluruh kapal di sekitar lokasi untuk meningkatkan kewaspadaan penuh selama bernavigasi. Di sisi lain, pihak Evergreen Marine Corp selaku pengelola armada belum memberikan pernyataan resmi terkait peristiwa ini.
Kabar mengenai eskalasi baru di jalur logistik vital ini langsung memicu reaksi cepat di pasar komoditas. Harga minyak mentah dunia yang sebelumnya sempat melandai ke level normal, mendadak berbalik menguat. Minyak mentah jenis Brent bahkan sempat melonjak mendekati angka US$76 per barel tidak lama setelah berita serangan tersebut menyebar.
Investigasi Pihak AS dan Posisi Iran
Situasi ini menjadi antiklimaks setelah sempat tercipta periode tenang pasca-perjanjian awal antara Washington dan Teheran yang sempat membuat lalu lintas kapal kembali ramai. Menanggapi insiden ini, perwakilan dari Gedung Putih menyatakan bahwa investigasi mendalam sedang berjalan. Pihak AS menilai masih terlalu dini untuk menunjuk dalang di balik serangan ini. Penyelidikan difokuskan untuk melihat apakah aksi ini merupakan perintah langsung dari petinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran atau tindakan indisipliner dari personel di lapangan.
Beruntung, tidak ada korban jiwa ataupun dampak kebocoran lingkungan yang dilaporkan akibat serangan ini. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump memilih tidak mengomentari insiden keamanan tersebut secara langsung. Dalam agenda makan malam bersama para petani, Trump justru fokus membahas rencana ekonomi di mana Iran disebut akan segera melakukan pembelian komoditas gandum dan kedelai dalam jumlah besar dari AS.
Ketegangan yang Belum Reda
Dampak psikologis dari serangan ini diprediksi akan meruntuhkan kepercayaan para pemilik kapal dan kru yang awalnya berharap Selat Hormuz sudah aman untuk dilalui. Isu kedaulatan jalur ini memang masih panas; Teheran secara konsisten menegaskan bahwa tidak boleh ada kapal yang melintas tanpa izin mereka. Bahkan di hari yang sama dengan insiden penyerangan, beberapa kapal tanker dilaporkan memilih putar balik setelah menerima peringatan radio dari Angkatan Laut Iran.
Otoritas maritim Iran di Teluk Persia juga menegaskan aturan ketat bahwa kapal yang nekat melintas di luar koridor resmi yang mereka tetapkan tidak akan mendapatkan jaminan keselamatan maupun perlindungan asuransi.
Akibat situasi yang kembali memanas ini, Badan Pelayaran PBB (IMO) memutuskan untuk membekukan sementara program evakuasi kapal terkoordinasi di Selat Hormuz demi keselamatan para pelaut. Langkah ini diambil hingga ada kejelasan lebih lanjut mengenai jaminan keamanan di kawasan Teluk Oman dan sekitarnya. Padahal sebelumnya, IMO sempat mengumumkan adanya koridor darurat yang aman untuk membantu ratusan kapal keluar dari area Teluk Persia.